Motivasi Beracun

January 2, 2018

“Motivasi Beracun” Selama menempu pendidikan di Amerika, hal yang paling menarik bukan teknik tertentu atau alat ukur psikologi tertentu. Menurut saya, hal yang paling menarik adalah BELAJAR CARA BELAJAR dan BELAJAR CARA BERPIKIR. Melalui cara belajar seperti ini kemampuan berpikir mengenai suatu bidang ilmu semakin dalam. Melalui cara belajar ini saya menjadi sadar bahwa tidak semua yang dilakukan oleh banyak orang lantas sudah benar dan tidak semua yang telah dilakukan berulang-ulang dari waktu ke waktu juga adalah sesuatu yang benar.

Ini juga terjadi di dunia pengembangan sumber daya manusia baik di Industri, Organisasi dan Bisnis. Prinsip-prinsip motivasi bertebaran dimana-mana, dijadikan prinsip hidup, nasehat bisnis, pedoman hidup, dan masih banyak lagi. Beberapa diantaranya memang baik, sebagian diantaranya mungkin kurang baik diterapkan, bahkan tidak sedikit yang terdengar hebat namun kurang berdampak baik. Memang agak sulit memilah dan memilih “ajaran” atau “prinsip” mana yang benar dan tepat, karena semuanya akan terlihat dan terdengar hebat jika disampaikan oleh orang yang dianggap hebat. Ini bukan hanya tersebar di berbagai training atau seminar, tetapi juga tersebar melalui berbagai buku dengan judul-judul yang fantastis.

Saya menyebutnya Hype = Ide atau Konsep “dijual” diberbagai Negara dengan berlebihan seakan tidak ada kekurangannya. Padahal, di negeri asal konsep/ prinsip tersebut ditemukan selalu dibarengi dengan penjelasan mengenai kekurangannya. Konsep tersebut lalu menyebar diberbagai bidang seperti pendidikan, bisnis, dan organisasi. Hasilnya, jika diterapkan memang terlihat begitu cepat terjadi perubahan ke arah positif namun belakangan ternyata justru merugikan.

Saya coba jelaskan sedikit yang sempat saya ingat, saya bisa saja menyertakan referensi untuk setiap poin dibawah ini tapi nanti jadinya seperti kajian literatur. Jadi, saya jelaskan saja sesederhana yang saya bisa.

  1. Sukses ditentukan oleh 70%, 80%, 90%, …. dan hanya 10%, 20%, 30% ditentukan oleh…

Ini salah satu yang paling sering tersebar dimana-mana. Tidak jarang saya menghadiri seminar/ training lalu pembicaranya menyebutkan persentase. Uniknya, persentase tersebut tidak pernah konsisten antara satu pembicara dengan pembicara yang lain. Contoh, “sukses ditentukan 80% kecerdasan xxx dan hanya 20% oleh faktor xxx”. Sebenarnya, sangat sulit untuk menentukan satu saja faktor dominan penentu kesuksesan dan juga tidak ada faktor yang dominan hingga mencapai 80%. Jangankan penentu kesuksesan, definisi sukses untuk setiap orang saja berbeda sehingga faktor penentunya juga berbeda. Solusinya, karena faktor sukses itu unik untuk setiap orang gunakan saja faktor yang paling anda kuasai, miliki, senangi, dan nikmati.

  1. Banyak Mikir = Otak Kiri = Lambat = Tidak Berhasil, jadi “Otak Kanan” saja

Beberapa tahun lalu, ini termasuk yang popular di Indonesia. Saya sering dibuat gregetan dengan beberapa rekan/ client yang saya minta memulai bisnis dengan lebih sistematis, terukur, dan terencana. Paling sering saya dengar seperti ini “mikir= itu otak kiri, langsung mulai saja,” kadang saya kesal dan bilang “bedakan pakai otak kanan dengan tidak pakai otak.” Parahnya lagi, dunia pendidikan juga dibawa-bawa dengan asumsi “pendidikan kita hanya menstimulasi otak kiri saja sehingga otak kanan nganggur,” (kasian para guru yang sudah lelah mengajar). Padahal, pola kerja otak tidak sesederhana itu.

Tidak ada seniman, ilmuan, pengusaha, pendidik, dan pemimpin yang hanya berpikir dengan satu belahan otak. Otak kanan dan kiri keduanya berfungsi dan digunakan ketika seseorang memproses informasi. Dari sisi science, konsep ini (dominasi otak kanan/ kiri) dianggap sebagai mitos dan tidak ditemukan bukti yang kuat (baca hasil penelitian di University of Utah dengan 1011 otak manusia http://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0071275) (ini yang saya tunjukkan karena artikelnya open access, kalau yang lain saya takut melanggar etika). Jadi, mungkin sekarang harus berhenti hanya pakai satu belahan otak tetapi belajar menggunakan otak.

  1. Berpikir Positif atau menipu diri?

Ini juga paling popular, bahkan jadi obat paling mujarab untuk untuk setiap masalah orang. Para pembicara talkshow di radio bahkan televisi juga sering menggunakan “resep” berpikir positif. Contohnya, ada pendengar yang bertanya terus diberikan jawaban dengan sangat sederhananya yaitu “berpikir positif-lah!” Padahal permasalahan setiap orang itu rumit dan tidak cukup hanya dengan “berpikir positif.” Mereka harus diajar untuk memikirkan masalahnya dan mencari alternatif solusi terbaik. Saya sering di tengah-tengah materi pelatihan bercerita begini:

Di hutan Afrika ada dua orang yang tersesat, tiba-tiba di hadapan mereka ada seekor Singa yang sangat lapar. Orang pertama adalah seorang pengusaha yang selalu optimis dalam hidup dan penuh dengan pikiran positif, sedangkan orang kedua adalah masyarakat lokal yang sama sekali tidak pernah sekolah. Apa yang harus dilakukan keduanya agar terhindar dari Singa?

Bayangkan, karena mungkin otak kita sudah sering dicuci dengan “berpikir positif” yang keliru sehingga untuk pertanyaan ini jawabannya menjadi sangat susah. Bahkan ada yang menjawab “orang pertama tidak akan dimakan karena dia berpikir positif bahwa singanya tidak lapar.” Padahal ini sangat sederhana, lari saja sekencang yang mereka bisa dan bersembunyi. Sama saja, hidup kita tidak akan berubah signifikan dengan hanya tinggal diam berpikir positif. Jangan menipu diri dengan berharap perubahan hebat terjadi dengan hanya berpikir positif.

Perlu juga kita ingat bahwa Tuhan mengkaruniai kita pikiran, baik itu positif atau negatif bertujuan untuk membantu kita bertindak. Keduanya bermanfaat termasuk pikiran negatif. Pikiran negatif membantu kita mengantisipasi dan mempersiapkan segala halnya lebih baik. Pikiran positif membuat kita menyambut optimis perencanaan dan usaha keras kita. Jika pikiran negatif muncul bisa jadi merupakan sinyal untuk memperbaiki diri, mencari informasi baru, atau belajar lebih baik lagi. *Catatan, yang saya maksud pikiran negatif disini bukan prasangka negatif kepada orang lain.

Solusinya, pikirkan semuanya dengan sebaik yang kita bisa, bertanya dan belajar, persiapkan segalanya sebaik yang kita bisa dan lakukan yang terbaik yang kita bisa lalu tunggu dengan “harapan” positif (positive expectation) bahwa setelah kesulitan ada kemudahan.

Semoga ini bermanfaat,

Sumber : https://hillmanresources.wordpress.com

Makassar, 30 Juli 2016

Hillman Wirawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *